Seluk Beluk Letter of Intent (LOI) besrta Contohnya

Definisi Letter of Intent (LoI)

Letter of Intent adalah  suatu surat resmi dalam bisnis, secara hukum kedudukannya tidak mengikat bagi para pihak yang tersebut didalamnya, dibuat oleh seorang pemilik bisnis, pengusaha, atau perusahaan, untuk menyampaikan ketertarikan, keinginan, niat, minat, atau maksud bisnis secara serius, rinci, ringkas dan jelas, tindak lanjut serta transaksi apa yang akan dijalankan, dan kemampuan untuk melaksanakannya, kepada pemilik bisnis, pengusaha, atau perusahaan lain.

LOI pada dasarnya tidak dikenal dalam hukum konvensional di Indonesia.Namun pada prakteknya, khususnya di bidang komersial, LoI sering digunakan oleh pihak-pihak terkait.

Berdasarkan uraian di atas, maka dapat dipahami bahwa LoI mencakup hal-hal sebagai berikut:

  1. LoI merupakan pendahuluan perikatan (landasan kepastian)
  2. Konten atau isi materi dari LoI hanya memuat hal-hal yang pokok-pokok saja
  3. LoI memiliki tenggang waktu, dengan kata lain hanya bersifat sementara,
  4. LoI biasanya tidak dibuat secara formal serta tidak mengisyaratkan kewajiban yang memaksa untuk dibuatnya kontrak atau perjanjian terperinci.

Kekuatan Hukum antara LoI dan Perjanjian

LOI adalah dokumen resmi bisnis yang pada dasrnya tidak mengikat secara hukum, dan tidak bisa diterapkan atau dipaksakan secara hukum. LOI bukan suatu persetujuan kontrak (contract agreement) yang kemudian mengikat para pihak dan memiliki kekuatan hukum. LOI hanya suatu dokumen resmi bisnis yang menyatakan adanya niat atau minat serius pengusaha untuk melaksanakan kegiatan usaha tertentu.

LOI menyerupai persetujuan kontrak tertulis, tapi biasanya tidak mengikat para pihak secara keseluruhan. Ketentuan dalam LOI yang kemudian mengikat antara lain; seperti persetujuan tak-mengungkapkan (non-disclosure agreement), persetujuan untuk bernegosiasi dengan maksud baik, atau perihal yang menjanjikan penyediaan hak eksklusif untuk bernegosiasi.

Pada dasarnya, LOI belumlah melahirkan suatu Hubungan Hukum karena LOI baru merupakan persetujuan prinsip yang kemudian dituangkan secara tertulis, artinya LOI yang diwujudkan secara tertulis baru menciptakan suatu awal yang kemudian menjadi landasan penyusunan dalam melakukan hubungan hukum/perjanjian.

Kekuatan mengikat dan memaksa LOI pada dasarnya sama halnya dengan perjanjian itu sendiri. Walaupun secara khusus tidak ada pengaturan yang baku tentang LOI dan materi muatan LOI itu diserahkan kepada para pihak yang berkaitan dengan pembuatannya.

Di samping itu, walaupun LOI merupakan perjanjian pendahuluan,bukan berarti LOI tersebut tidak mempunyai kekuatan mengikat dan memaksa bagi para pihak untuk mentaatinya dan/atau melaksanakannya.

Terkadang, suatu perjanjian diberi nama LOI. Artinya, penamaan dokumen tersebut tidak sesuai dengan isi atau konten dari dokumen tersebut. Sehingga LOI tersebut memiliki kekuatan hukum mengikat sebagaimana perjanjian.

Dalam hal suatu LOI telah dibuat secara sah, memenuhi syarat-syarat sahnya perjanjian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1320 KUHPerdata, maka kedudukan dan/atau keberlakuan LOI bagi para pihak dapat disamakan dengan sebuah undang-undang yang memiliki kekuatan mengikat dan memaksa. Tentu saja pengikat itu hanya menyangkut dan sebatas pada hal-hal pokok yang tercatat dalam LOI.

Berdasarkan hal tersebut diatas, bahwa LOI dapat mengikat para pihak, apabila content/isi dari LOI itu sendiri telah memenuhi unsur perjanjian sebagaimana telah diuraikan di atas, dan bukan sebagai pendahuluan sebelum membuat perjanjian, sebagaimana maksud pembuatan LOI sebenarnya.

Berikut Adalah Contoh dari LoI (Letter of Intent) :

Contoh Lowongan Iklan Bahasa Inggris

Pembuatan iklan lowongan pekerjaan harus sederhana sekaligus menarik. Sebagai aturan umum, teks harus tertata rapi dan berisi pesan yang berguna serta tidak menimbulkan keambiguan (berarti lebih dari 1 makna). Selain itu, beberapa elemen yang diperlukan untuk penulisan iklan lowongan pekerjaan yang lengkap adalah sbb:

  • Sebuah pengantar identitas singkat Perusahaan (nama, industri, tempat kerja dan logo)
  • Sebuah deskripsi singkat dari posisi yang ditawarkan (judul, misi, fungsi, jenis kontrak, durasi kontrak, dll)
  • Keterampilan teknis dan perilaku yang diperlukan
  • Batas waktu pendaftaran (lebih baik jika juga menyertakan batas awalnya juga)
  • Spesifikasi pekerjaan
  • Pihak yang bertanggung jawab dari proses perekrutan
  • Alamat e-mail dan nomor yang dapat dihubungi untuk mencari informasi lebih lanjut.

Sebaliknya, ada pula hal-hal yang sangat dianjurkan untuk tidak disertakan, yaitu:

  • Preferensi untuk asal-usul, gaya hidup, situasi keluarga calon, dll
  • Preferensi untuk jenis kelamin calon (kecuali dalam keadaan khusus)
  • Preferensi untuk orientasi kandidat politik, kegiatan, agama, dll
  • Persyaratan untuk calon kesehatan / tidak adanya cacat apapun
  • Batas usia maksimal

Selain itu, penerimaan dari semua aplikasi harus dikonfirmasi secepat mungkin (baik secara lisan atau tertulis). Citra perusahaan akan sangat bergantung pada kualitas proses rekrutmen.

Sebelum Anda menulis iklan lowongan pekerjaan, maka Informasi berikut ini akan membantu Anda menulis iklan yang menarik. Cara terbaik untuk menghindari membuang-buang waktu wawancara dengan orang-orang yang tidak memenuhi kriteria adalah dengan menulis iklan yang akan memikat calon yang memenuhi syarat dan menyisihkan yang tidak memenuhi syarat. Deskripsi seperti PENGALAMAN TIDAK DIPERLUKAN menggarisbawahi bahwa ia akan mempekerjakan  calon yang belum memiliki pengalaman sebelumnya.

 

Definisi Beserta Contoh Addendum Kontrak

Adendum adalah istilah hukum yang lazim disebut dalam suatu pembuatan kontrak atau perjanjian. Jika dilihat dari arti katanya, addendum berarti lampiran, suplemen, atau tambahan.

Pengertian Addendum dalam kontrak atau surat perjanjian diartikan sebagai tambahan klausula atau pasal yang terpisah secara fisik dari perjanjian pokok namun secara hukum melekat pada perjanjian pokok tersebut.  Menurut Frans Satriyo Wicaksono, SH. dalam bukunya “Panduan Lengkap Membuat Surat-Surat Kontrak” disebutkan bahwa jika pada saat kontrak berlangsung ternyata terdapat hal-hal yang belum dimasukkan ke dalam kontrak tersebut, maka dapat dilakukan musyawarah untuk suatu kemufakatan akan hal-hal yang belum diatur tersebut. Untuk itu ketentuan atau perihalyang belum diatur tersebut harus disertakan dalam bentuk tertulis sama seperti kontrak yang telah dibuat. Pengaturan ini umumnya disebut dengan addendum atau amandemen klausula. Addendum biasanya dicantumkan pada bagian akhir dari suatu perjanjian pokok. Hingga saat ini, belum ada alasan yang pasti mengapa cara addendum lebih menjadi pilihan daripada merubah perjanjian atau membuat perjanjian baru untuk suatu penambahan isi dari suatu perjanjian. Namun Addendum diduga dipilih karena alas an praktisan dan lebih menghemat waktu serta biaya. (more…)