Slide Etika Akuntansi dan Gender

Penghasilan seorang  akuntan di Indonesia  termasuk rendah  dibandingkan  negara  lain  di Asia.  Selain itu, profesi ini masih diselimuti bias .

?Hasil penelitian yang dipublikasi dalam Jurnal Akuntansi dan Keuangan edisi September 2007 menemukan, bahwa  fee yang diterima auditor wanita dan auditor laki-laki pada saat rekrutmen adalah sama. Namun, beberapa tahun kemudian fee auditor wanita lebih rendah dari auditor laki-laki. Hal tersebut mengindikasikan bahwa kenaikan  karier auditor  laki-laki  lebih  cepat  daripada   auditor  wanita.

Terdapat kesetaraan antara akuntan laki-laki dan perempuan dalam bekerja, terutama menyangkut motivasi, komitmen organisasi, komitmen kerja dan kemampuan kerja. Perbedaan yang ada lebih disebabkan karena masalah faktor-faktor psikologis  individu. Jadi tidak ada perbedaan dalam kesempatan dan peranan bagi perempuan dan laki-laki dalam profesi akuntansi. (Samekto, 1999)

Isu perbedaan gender, mitos maupun paradigma  negatif tentang perempuan dalam profesi akuntansi tidak dapat dibuktikan secara empiris, bila terjadi kelambatan kenaikan karier pada wanita lebih dikarenakan adanya kebudayaan yang diciptakan untuk laki laki (patriarkhi), kemudian stereotype tentang perempuan, yaitu pendapat yang menyatakan bahwa perempuan mempunyai keterikatan (komitmen) pada keluarga yang lebih besar  daripada  komitmen  terhadap  karir. Dengan demikian isu gender tetap merupakan isu yang tidak dapat dijelaskan dengan tuntas melalui riset empiris.

Maka masih perlukah feminisme? Masih perlukah maskulinisme? Tidak! Karena pada dasarnya dan akhirnya, laki-laki dan perempuan saling melengkapi (komplementer) tidak ada yang lebih superior.

Download slide: ETIKA – AKUNTANSI DAN GENDER (443)

Leave a comment

0 Comments.

Leave a Reply


[ Ctrl + Enter ]

*